Bila lelah diperjalanan singgahlah dirumah yang didalamnya ada pendar cahaya, ketuk pintunya sebagai seorang musafir,katakan lelahnya perjalanan dan mintalah secawan air, yakinkan juga bahwa musafir bukanlah pengemis,lalu teruskan perjalanan sampai dapatkan rumah cahaya,ingat juga secawan air yang direguk dari rumah cahaya.
Kini musafir dapatkan rumah cahaya, bermandi kebahagiaan,dikedua tangan tergenggam kemuliaan dan keagungan, lunas sudah kelelahan perjalanan terbayar,ia membangun kolam-kolam penampungan,tak ada kehausan dan ia bukan musafir yang cukup dengan secawan air,ia pemilik rumah cahaya.
Syahdan,parade musafir memanjang mengetuk pintu pemilik rumah cahaya,berharap menuntaskan dahaga dikolam-kolam penampungan, mereka tahu pemilik rumah cahaya seorang musafir seperti dirinya,yang kelelahanya telah terbayar, wahai pemilik rumah cahaya beri izin kami memasuki rumah cahayamu dan meminum dikolam-kolammu.
Aku memang musafir tapi juga pemilik rumah cahaya, sebagaimana dulu aku meminum hanya secawan air, dan itu cukup bagi seorang musafir, sedang kolam-kolam penampungan hak pemilik rumah cahaya. Wahai pemilik rumah cahaya secawan air tidaklah cukup,sedang kekejaman gurun dulu sama dirasakan. Wahai musafir cukup secawan air lalu lanjutkan perjalanan sampai temukan rumah cahaya.
Kini rumah cahaya tinggal pendarnya,kemegahan yang tidak jadi muara kebahagiaan bagi para musafir. Wahai kawan akal telah diajari pemilik rumah cahaya , bahwa musafir hanyalah pengemis yang cukup secawan air dan pemilik rumah cahaya seorang tuan.
Bumi ini milik bersama,air milik alam dan meminum adalah hak.para musafir gali tembok rumah cahaya,alirkan kolam-kolam penampungan rumah cahaya kekolam penampungan milik bersama,kolamnya musafir.
By : Aconk
Komentar
Posting Komentar